Selasa, 29 April 2014

NILAI DAN ETIKA LINGKUNGAN DALAM TEORI DAN APLIKASINYA

DI RUMAH PROF. SUPLI EFFENDI RAHIM, PHD, M.Sc


https://encrypted-tbn2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcS3QbM00vMfnGSKMs3RXrU2vbPjUl-TgHqi01LdTRwKFJgdg7Wz




NAMA : WIWIN DWI SAPUTRI
NPM : 13.13101.10.24

DOSEN PEMBIMBING : PROF. DR. SUPLI EFFENDI RAHIM, M.Sc










PROGRAM PASCA SARJANA KESEHATAN MASYARAKAT
STIK BINA HUSADA PALEMBANG
TAHUN 2014





NILAI DAN ETIKA LINGKUNGAN DALAM TEORI DAN APLIKASINYA
DI RUMAH PROF. SUPLI EFFENDI RAHIM, PHD, M.Sc

A.   Nilai Lingkungan
Nilai adalah sesuatu yang penting, baik dan berharga. Dalam nilai terkandung sesuatu yang ideal, harapan yang dicita-citakan untuk kebajikan. Menilai berarti menimbang, suatu kegiatan menghubungkan sesuatu dengan yang lain dan kemudian mengambil keputusan. Sesuatu dianggap punya nilai jika sesuatu itu dianggap penting, baik dan berharga bagi kehidupan umat manusia. Baik ditinjau dari segi religius, politik, hukum, moral, etika, estetika, ekonomi, lingkungan dan sosial budaya.
Adapun lingkungan adalah istilah yang dapat mencakup segala makhluk hidup dan tak hidup di alam, yang berfungsi secara alami tanpa campur tangan manusia yang berlebihan atau kesatuan makhluk hidup termasuk di dalamnya ada manusia dan segala tingkah lakunya demi melangsungkan perikehidupan dan kesejahteraan manusia maupun mahkluk hidup lainnya yang ada di sekitarnya.  
Nilai lingkungan artinya ada kandungan yang terdapat dalam lingkungan. Lingkungan yang mempunyai nilai positif, berharga dan dipentingkan dengan sebaik-baiknya, dimana artinya yang berkarakter dan mendukung terciptanya perwujudan nilai-nilai lingkungan dalam menunjang kehidupan, sepeti karakter cinta pada Sang Maha Pencipta dan segenap ciptaan-Nya. Begitupun sebaliknya. Jadi nilai lingkungan yang berharga tersebut sangatlah penting bagi perkembangan semua makhluk untuk bertahan hidup dan untuk beribadah pada Sang Pencipta.
Artinya juga nilai lingkungan harus mencakup kemandirian dan tanggung jawab, kejujuran dan amanah, diplomatis, hormat dan santun, dermawan, suka tolong-menolong, gotong royong dan kerjasama dalam menjaga dan melestarikan lingkungan.

B.   Etika Lingkungan
Etika Lingkungan berasal dari dua kata, yaitu Etika dan Lingkungan. Etika berasal dari bahasa yunani yaitu “Ethos” yang berarti adat istiadat atau kebiasaan. Ada tiga teori mengenai pengertian etika, yaitu: etika Deontologi, etika Teologi, dan etika Keutamaan. Etika Deontologi adalah suatu tindakan di nilai baik atau buruk berdasarkan apakah tindakan itu sesuai atau tidak dengan kewajiban. Etika Teologi adalah baik buruknya suatu tindakan berdasarkan tujuan atau akibat suatu tindakan. Sedangkan Etika keutamaan adalah mengutamakan pengembangan karakter moral pada diri setiap orang.
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar manusia yang mempengaruhi kelangsungan kehidupan kesejahteraan manusia dan makhluk hidup lain baik secara langsung maupun secara tidak langsung.
Jadi, etika lingkungan merupakan kebijaksanaan moral manusia dalam bergaul dengan lingkungannya.etika lingkungan diperlukan agar setiap kegiatan yang menyangkut lingkungan dipertimbangkan secara cermat sehingga keseimbangan lingkungan tetap terjaga.
Adapun hal-hal yang harus diperhatikan sehubungan dengan penerapan etika lingkungan sebagai berikut:
a. Manusia merupakan bagian dari lingkungan yang tidak terpisahkan sehngga perlu menyayangi semua kehidupan dan lingkungannya selain dirinya sendiri.
b. Manusia sebagai bagian dari lingkungan, hendaknya selalu berupaya untuk menjaga terhadap pelestarian , keseimbangan dan keindahan alam.
c.   Kebijaksanaan penggunaan sumber daya alam yang terbatas termasuk bahan energy.
Lingkungan disediakan bukan untuk manusia saja, melainkan juga untuk makhluk hidup yang lain.Di samping itu, etika Lingkungan tidak hanya berbicara mengenai perilaku manusia terhadap alam, namun juga mengenai relasi di antara semua kehidupan alam semesta, yaitu antara manusia dengan manusia yang mempunyai dampak pada alam dan antara manusia dengan makhluk hidup lain atau dengan alam secara keseluruhan.

Jenis-Jenis Etika Lingkungan
Etika lingkungan hidup berbicara mengenai perilaku manusia terhadap alam serta hubungan antara semua kehidupan alam semesta. Etika lingkungan (etika ekologi) adalah pendekatan terhadap lingkungan yang melihat pentingnya memahami lingkungan sebagai keseluruhan kehidupan yang saling menopang, sehingga semua unsur mempunyai arti dan makna yang sama. Prinsip etika ekologi adalah: semua bentuk kehidupan memiliki nilai bawaan dan karena itu memiliki hak untuk menuntut penghargaan karena harga diri, hak untuk hidup dan hak untuk berkembang.
Etika lingkungan dapat dibedakan menjadi etika pelestarian dan etika pemeliharaan.  Etika pelestarian adalah etika yang menekankan pada mengusahakan pelestarian alam untuk kepentingan manusia, sedangkan etika pemeliharaan dimaksudkan untuk mendukung usaha pemeliharaan lingkungan untuk kepentingan semua mahluk. Etika ekologi dapat dibedakan menjadi etika ekologi mendalam dan etika ekologi dangkal.
Etika Ekologi Dangkal
Etika ekologi dangkal merupakan pendekatan terhadap lingkungan yang menekankan fungsi lingkungan sebagai sarana penyelenggaraan kepentingan manusia dan bersifat antroposentris. Etika ekologi dangkal biasa diterapkan pada filsafat rasionalisme dan humanisme serta ilmu pengetahuan mekanistik. Dalam hal ini, alam hanya dipandang sebagai alat pemenuhan kebutuhan hidup manusia.
Poin-poin penekanan dalam etika antroposentris adalah sebagai berikut.
·         Manusia terpisah dari alam.
·         Mengutamakan hak-hak manusia atas alam tetapi tidak menekankan tanggung     jawab manusia.
·         Mengutamakan perasaan manusia sebagai pusat keprihatinannya.
·         Kebijakan dan manajemen sunber daya alam untuk kepentingan manusia.
·         Norma utama adalah untung rugi.
·         Mengutamakan rencana jangka pendek.
·         Pemecahan krisis ekologis melalui pengaturan jumlah penduduk khususnya di negara miskin.
·         Menerima secara positif pertumbuhan ekonomi.
Jenis etika antroposentris.
1.      Etika antroposentris yang menekankan segi estetika alam (etika lingkungan harus dicari pada kepentingan manusia, secara khusus kepentingan estetika).
2.      Etika antroposentris yang mengutamakan kepentingan generasi penerus(mendasarkan etika lingkungan pada perlindungan atau konservasi alam yang ditujukan untuk generasi penerus manusia).

Etika Ekologi Mendalam
Dalam hal ini, alam dipandang memiliki fungsi kehidupan, patut dihargai dan  diperlakukan dengan cara yang baik (etika lingkungan ekstensionisme atau preservasi). Karena alam disadari sebagai penopang kehidupan manusia dan seluruh ciptaan. Untuk itu manusia dipanggil untuk memelihara alam demi kepentingan bersama, kepentingan manusia dan kepentingan alam itu sendiri.
Berikut adalah poin-poin yang ditekankan dalam etika ekologi.
·         Manusia adalah bagian dari alam
·         Menekankan hak hidup mahluk lain, walaupun dapat dimanfaatkan oleh manusia, tidak boleh diperlakukan sewenang-wenang
·         Prihatin akan perasaan semua mahluk dan sedih kalau alam diperlakukan sewenang-wenang
·         Kebijakan manajemen lingkungan bagi semua mahluk
·         Alam harus dilestarikan dan tidak dikuasai
·         Pentingnya melindungi keanekaragaman hayati
·         Menghargai dan memelihara tata alam
·         Mengutamakan tujuan jangka panjang sesuai ekosistem
·         Mengkritik sistem ekonomi dan politik dan menyodorkan sistem alternatif yaitu sistem mengambil sambil memelihara.
Berikut adalah jenis-jenis etika ekologi mendalam.
1.      Etika Neo-Utilitarisme. Etika ini merupakan pengembangan etika utilitarisme Jeremy Bentham yang dipelopori Pete Singer yang menekankan kebaikan untuk semua sehingga kebaikan etika lingkungan ditujukan untuk seluruh mahluk.
2.      Etika Zoosentrisme. Etika ini menekankan perjuangan hak-hak binatang (pembebasan binatang) dengan tokoh  Charles Brich. Menurut etika ini, binatang memiliki hak menikmati kesenangan karena mereka dapat merasa senang dan harus dicegah dari penderitaan dan menjadikan rasa senang/penderitaan binatang sebagai salah satu standar moral.
3.      Etika Biosentrisme. Etika ini  menekankan kehidupan sebagai standar moral dengan salah satu tokohnya adalah Kenneth Goodpaster. Hal yang dijadikan tujuan bukanlah rasa senang atau menderita tetapi kemampuan atau kepentingan untuk hidup. Dengan menjadikan kepentingan untuk hidup sebagai standar moral, maka yang dihargai secara moral bukan hanya manusia dan hewan, melainkan seluruh makhluk hidup yang ada.
4.      Etika Ekosentrisme. Etika ekosentrisme menekankan keterkaitan seluruh organisme dan anorganisme dalam ekosistem. Setiap individu mamiliki keterkaitan satu sama lain secara mutual dan memandang bumi sebagai suatu pabrik terintegrasi berisi organsime yang saling membutuhkan, saling menopang dan saling memerlukan. Kematian dan kehidupan haruslah diterima secara seimbang. Hukum alam memungkinkan mahluk saling memangsa diantara semua spesies. Ini menjadi alasan mengapa manusia boleh memakan unsur-unsur  yang ada di alam, seperti binatang maupun tumbuhan. Menurut salah satu tokohnya, John B. Cobb, etika ekosentrisme mengusahakan keseimbangan antara kepentingan individu dengan kepentingan keseluruhan dalam ekosistem.

Strategi Penerapan Etika Lingkungan
1.      Sikap Hormat terhadap Alam (Respect For Nature). Hormat terhadap alam merupakan prinsip dasar bagi manusia sebagai bagian dari alam semesta seluruhnya. Setiap anggota komunitas ekologis, termasuk manusia, berkewajiban menghargai dan menghormati setiap kehidupan dan spesies serta menjaga keterkaitan dan kesatuan komunitas ekologis.
2.      Prinsip Tanggung Jawab (Moral Responsibility For Nature). Manusia mempunyai tanggung jawab terhadap alam semesta (isi, kesatuan, keberadaan dan kelestariannya).
3.      Solidaritas Kosmis (Cosmic Solidarity). Prinsip solidaritas muncul dari kenyataan bahwa manusia adalah bagian yang menyatu dari alam semesta dimana manusia sebagai makhluk hidup memiliki perasaan sepenanggungan dengan alam dan dengan sesama makhluk hidup lain.
4.      Prinsip Kasih Sayang dan Kepedulian terhadap Alam (Caring For Nature). Manusia digugah untuk mencintai, menyayangi, dan melestarikan alam semesta dan seluruh isinya, tanpa diskriminasi dan tanpa dominasi yang muncul dari kenyataan bahwa sebagai sesama anggota komunitas ekologis, semua makhluk hidup mempunyai hak untuk dilindungi, dipelihara, tidak disakiti, dan dirawat.

C.   Evaluasi Nilai dan Etika Lingkungan di Rumah Prof. Supli

Kolam Ikan:
Berfungsi sebagai :
1.    Penampung air hujan
2.    Penampung limbah
3.    Peternakan ikan
4.    Tempat rekreasi


Bak Penampungan:
Berfungsi sebagai :
1.    Bisa mandi/ berenang
2.    Banjir dan kekeringan berkurang
3.    Antisipasi kekurangan air
4.    Menampung air hujan sementara untuk di alirkan ketempat lain

Plafon Terbuka:

Berfungsi sebagai:
1.    Untuk penerangan
2.    Untuk ventilasi
3.    Menyiram langsung tanaman dari air hujan

Dam Penampung:
Berfungsi sebagai:
1.    Menampung air
2.    Mengurangi kekeringan
3.    Untuk wudhu
4.    Untuk menyiram tanaman


Taman Anggrek:
Berfungsi sebagai:
1.    Rekreasi dan keindahan
2.    Punya nilai jual
3.    Pelestarian tanaman/ jenis-jenis anggrek
4.    Bahan penelitian

Semua yang diatas berfungsi multiguna, menampung 70% air hujan

Evaluasi Nilai Lingkungan di Rumah Prof. Supli Effendi Rahim, PHD, M.Sc

A.   Nilai ekonomi total/ total ekonomis
1.    Pembuatan kolam ikan dimana tanah galiannya dimanfaatkan untuk penimbunan tanah sekitar sehingga dapat mengurangi biaya penimbunan.
2.    Ikan yang terdapat dikolam dapat dikonsumsi sediri atau dijual
3.    Budidaya tanaman/ bunga dapat dimanfaatkan sendiri atau dijual
4.    Pemanfaatan air hujan yang ditampung untuk keperluan dapat menghemat pemakaian air yang berasal dari PDAM.
5.    Pemanfaatan cahaya matahari kedalam rumah dapat digunakan untuk penerangan sehingga dapat menghemat listrik.
6.    Adanya ventilasi yang baik sehingga udara menjadi sejuk, alami tanpa menggunakan AC, sehingga dapat mengurangi pemakaian listrik.

B.   Nilai biologis
1.    Kolam ikan berfungsi sebagai tempat penyerapan air.
2.    Adanya tanaman/ bunga dapat menyejukkan mata sehingga berfungsi sebagai terapi mata.
3.    Banyaknya tanaman dapat menghasilkan oksigen sehingga menimbulkan udara yang segar dan sehat.
4.    Adanya green house yang berisikan berbagai jenis bunga, misalnya tanaman anggrek.
5.    Adanya tanaman obat dihalaman, misalnya brotowali dan asam jawa.
6.    Banyaknya tanaman dirumah sehingga teduh
7.    Adanya sistem penyaringan air dengan menggunakan saringan ijuk, pasir, arang, koral dan bata memenuhi syarat aiar bersih untuk kesehatan.

C.   Nilai sosiologis
1.    Konsep rumah dengan lingkungan alamnya yang luas serta banyaknya tanaman/ bunga bisa dimanfaatkan untuk tempat istirahat dan rekreasi keluarga.
2.    Lingkungan sehat, baik dan nyaman dapat digunakan untuk tempat rekreasi, bersantai yang hemat dan berwawaskan lingkungan, misalnya kolam ikan yang baik untuk refreshing.
3.    Lingkungan yang baik dapat memberikan contoh terutama untuk pendidikan pada anak-anak tentang ketertiban, ketentraman, keahlakan, da kelestarian lingkungan hidup.
4.    Dapat memotivasi masyarakat/ seseorang untuk mewujudkan harapan akan rumah sehat dan lingkungan sehat sesuai dengan apa yang diharapkan.

D.   Nilai Keberadaan
1.    Bermanfaat bagi lingkungan sekitar karena air hujan ditadah dan diresap oleh pohon-pohon sehingga menguntungkan lingkungan sekitar, misalnya mencegah banjir dan mengurangi polusi udara.
2.    Bak penampungan air yang berbentuk kolam berfungsi sebagai objek wisata.

E.   Nilai ekologis
1.    Kolam ikan yang ditaburi dengan EM4 sehingga lingkungan ekologisnya terjaga serta dapat menghasilkan ikan yang lebih berkualitas.
2.    Air hujan yang ditampung dapat didistribusikan pada saat dibutuhkan kebagian/areal uang lain.
3.    Dengan banyaknya pohon-pohon sehingga menurunkan kadar CO2 sehingga mengurangi pencemaran udara
4.    Tumbuh-tumuhan membentuk humus, menyimpan air tanah dan mencegah erosi.

F.    Nilai Warisan
1.    Lingkungan yang baik dan sehat dapat menjadi warisan bagi anak dan cucu dan baik untuk kelangsungan hidup pada generasi yang akan datang.

G.   Nilai Kesehatan
1.    Ikan dikolam dapat memakan jentik-jentik nyamuk sehingga mengurangi jumlah vektor nyamuk.
2.    Adanya batu-batu kecil sehingga dapat digunakan sebagai sarana refleksi kaki.
3.    Cahaya matahari yang masuk kedalam rumah dapat menyehatkan lingkungan di dalam rumah, juga dapat membunuh kuman-kuman penyakit.

H.   Nilai Estetika
1.    Tanaman-tanaman serta bunga yang terdapat dihalaman dapat memperindah pemandangan.

Kesimpulan:

Membangun rumah panen hujan merupakan bentuk syukur kita kepada allah SWT dan memanfaatkan semua yang ada dilangit dan bumi, serta menjaga kelestarian lingkungan.